Islam Bukan Agama Teroris


Sumber Gambar: google.com
"Studi Terhadap Islam Radikal"
Oleh: Wandi, S. Hum
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah. (Wikipedia: 23 Nopember 2015).
Islam juga mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada orang lain yang saya kira ini konsep atau ajaran ini juga barang tentu juga terdapat pada ajaran agama lain. Tetapi apa yang baru-baru ini terjadi (Serangan ISIS di Paris) sungguh mengguncang dan membuat umat Islam semakin di tuduh sebagai agama Radikal atau kasarnya "agama teroris". Tidak bisa di pungkiri bahwa memang ada sebagian umat Islam yang berfaham seperti ini (ISIS) yang sudah di jelaskan di atas. Meskipun di al-Qur’an memang ada ayat-ayat yang berpotensi menimbulkan faham radikal jika dilihat dari tekstualnya, contohnya:
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang bertakwa. (Q.S Al-taubah [9]: 123).
Ayat tersebut menurut paham radikal, umat Islam harus menunjukkan sikap yang keras terhadap orang-orang kafir ketika berperang. Tapi harus di ingat bahwa Islam sebenarnya tidak pernah melakukan perang, kecuali jika di ganggu terlebih dahulu.
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-anfal [8]: 39).
Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud fitnah adalah kemusyrikan, sedang menurut pendapat Urwah bin Zubair, fitnah berarti gangguan-ganguan terhadap umat Islam dan agama Islam.(Ibnu Katsir, Juz IV, hlm 56-57. Dalam konteks deradikalisasi agama, mestinya konsep jihad difahami secara dinamis, ia bisa mengalami perkembangan sesuai dengan konteks yang mengiringinya. Jihad dapat diwujudkan untuk membela agama atau mempertahankan negara. Dalam konteks sekarang, kita dapat memperjuangkan jihad dengan memperjuangkan tegaknya prinsip-prinsip atau nilai-nilai universal seperti: persatuan, musyawarah, keadilan, kebebasan disertai tanggung jawab. Inilah yang harus terus menerus kita perjuangkan dalam rangka jihad.
Kalau membaca penafsiran ulama terdahulu seperti Urwah bin Zubair terhadap (Q.S. Al-Anfal [8]:39). agaknya lebih tepat jika difahami secara konteks sosio-historis ayat tersebut, bahwa umat Islam disuruh memerangi orang-orang kafir musyrik lebih disebabkan karena umat Islam itu dizhalimi dan terus mengalami gangguan dari mereka. Jadi segala bentuk yang membuat keresahan dan kerusuhan perlu diperangi dan dilawan TETAPI TIDAK HARUS DENGAN KEKERASAN. Upaya-upaya menegakkan keadilan (baca:politik yang adil) dan peningkatan kesejahtraan (ekonomi) dan pemahaman agama (baca: pendidikan) yang toleran dan yang santun justru lebih penting. Dan mestinya dalam kondisi damai umat Islam tidak boleh membuat keresahan apalagi aksi-aksi terorisme, yang mengatasnamakan jihad.
Sebenarnya, pemahaman penafsiran terhadap ayat-ayat yang dapat memicu sikap dan tindakan radikal, harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti asbabun nuzul, (konteks historis), aspek munasabah, dan juga konteks kekinian yakni masyarakat multikultur. Pendek kata, diperlukan tafsir lebih humanis-kontekstual, dan mencerminkan pandangan yang toleran terhadap keberagaman dalam rangka mendorong terciptanya harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural. (Dr. Abdul Mustakim, S.Ag. M.Ag dalam diskusi Dosen dan Mahasiswa UIN Suka Yogyakarta 20 Nopember 2015).
Menurut hemat penulis kejadian-kejadian seperti ini bisa jadi di akibatkan karena kita terlalu cendrung anti pluralisme (lihat tulisan penulis tentang konsep pluralisme antar umat beragama). Seharusnya kita harus lebih peka terhadap keberagaman kita. Selama ini kita terlalu memaksakan diri terhadap klaim kebenaran yang kita miliki, sehingga seakan-seakan kita menggap bahwa mereka (agama lain) adalah musuh kita, inilah yang menjadi salah satu persoalan timbulnya aksi terorisme yang dilakukan oleh faham radikal dalam Islam. Wa allahu alam bi al-Shawab.

0 Komentar