Teori of religion II




Teori of Religion II 
Oleh: Wandi
Di dunia modern saat ini, antara agama dan modernisasi bertentangan dengan pemahaman konvensional modernisasi sebagai sekularisasi (pemisahan antara konsep agama dan negara). Walaupun bertentangan tetapi agama dan modernisasi terus memainkan peran utama dalam politik, masyarakat dan budaya. Permasalahan ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan telah menjadi kegiatan akademik dan  menarik untuk diteliti seperti ide-ide "antara agama dan politik," "nasionalisme dan religius,"masyarakat pos-sekuler.". Dalam arti luas, budaya masyarakat dilhati dari persepektif agama lebih menarik untuk dikaji dari pada berbicara soal peraktek keyakinan dalam ibadah (Casanova 1994).
Dari sini tentu saja arti-penting agama dalam budaya modern tergantung pada dari mana persepektif kita melihat. Agama dalam bentuk Pentakostalisme, fundamentalisme, gerakan karismatik, dan revivalisme - tampaknya berkembang di banyak Selatan Amerika, Afrika, dan Asia Tenggara. Agama juga telah menghidupkan kebijakan pemerintah liberal China kontemporer dan Vietnam. Namun di Eropa dan Amerika Utara pertumbuhan komunitas diaspora dengan agama besar minoritas juga mengubah peta budaya apa yang dianggap masyarakat yang umumnya sekuler.
Pengeboman akibat teroris di London, Madrid, dan ditempat lain dianggap bahwa ini adalah kepentingan politik karena dalam Islam tidak ada ajaran yang mengajarkan tentang kekeresan (Juergensmeyer, 2003). Dalam penelitian ilmiah ini menjadi menarik untuk dikaji mengenai Islam, mengenai studi tentang "Islam radikal," "Islam politik," dan sebagainya, mengingat perkembangan Islam. Dalam studi tidak boleh dilihat dalam arti sempit dalam artian sebagai peneliti kita harus objektif. Karena dalam masyarakat Islam itu sendiri sangat sedikit ditemukan bukti Radikalisme. Politik dan Islam maupun perbuatan pemuda yang anti-modern (Pew Research Center 2007).
Hal ini dianggap penting bagi akademisi untuk menghindari sikap merugikan dalam termasuk unsur politik didalamnya. Buku new Blackwell companion sosiologi agama mencoba memahami dan menggambarkan keunggulan dari tulisan Bryan kareana itu antara agama dan modernitas membutuhkan pengkajian yang bersifat komprehensip dan bersifat objektif memakai pendekatan Katolik untuk mempelajari agama dalam masyarakat. Ini dianggap penting untuk melihat studi agama dan agama. Diharapkan di penerbitan modern ini dapat menjadi buku panduan, dan telah dibuktikan dilapangan bila untuk memahami studi agama.
Agama dan Modernitas adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan agama dapat membimbing kita dalam mengahadapi perkembagan zaman yang modern ini. Meskipun pada saat ini ada beberapa orang masih sangat kaku dalam memahami agama, mereka terlalu eksklusif dalam memahami agama akibatnnya mereka terjebak dalam belenggu fanatik agama dan cendrung menolak modernisme. Alias mereka tetap mempertahankan keadan sosial mereka atau tetap mengganggap ajaran merekalah yang paling benar.
Disini saya menganggap bahwa modernisme adalah perubahan yang terjadi secara keseluruhan tanpa terkecuali juga agama disitu, dalam artian bahwa dalam memahami agama dengan kondisi sosial seperti keadaan sekarang ini haruslah dengan berfikir secara terbuka dan lebih berwawasan. Agar kita umat Islam tidak terjebak dalam dunia fanatisme, dan cendrung melakukan kekerasan dengan membawa unsur-unsur agama di dalamnya. 


Meskipun di al-Qur’an memang ada ayat-ayat yang berpotensi menimbulkan faham radikal jika dilihat dari tekstualnya, contohnya:
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang bertakwa. (Q.S Al-taubah [9]: 123).
Ayat tersebut menurut paham radikal, umat Islam harus menunjukkan sikap yang keras terhadap orang-orang kafir ketika berperang. Tapi harus di ingat bahwa Islam sebenarnya tidak pernah melakukan perang, kecuali jika di ganggu terlebih dahulu.
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-anfal [8]: 39).
Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud fitnah adalah kemusyrikan, sedang menurut pendapat Urwah bin Zubair, fitnah berarti gangguan-ganguan terhadap umat Islam dan agama Islam.(Ibnu Katsir, Juz IV, hlm 56-57). Dalam konteks deradikalisasi agama, mestinya konsep jihad difahami secara dinamis, ia bisa mengalami perkembangan sesuai dengan konteks yang mengiringinya. Jihad dapat diwujudkan untuk membela agama atau mempertahankan negara. Dalam konteks sekarang, kita dapat memperjuangkan jihad dengan memperjuangkan tegaknya prinsip-prinsip atau nilai-nilai universal seperti: persatuan, musyawarah, keadilan, kebebasan disertai tanggung jawab. Inilah yang harus terus menerus kita perjuangkan dalam rangka jihad.
Kalau membaca penafsiran ulama terdahulu seperti Urwah bin Zubair terhadap (Q.S. Al-Anfal [8]:39). agaknya lebih tepat jika difahami secara konteks sosio-historis ayat tersebut, bahwa umat Islam disuruh memerangi orang-orang kafir musyrik lebih disebabkan karena umat Islam itu dizhalimi dan terus mengalami gangguan dari mereka. Jadi segala bentuk yang membuat keresahan dan kerusuhan perlu diperangi dan dilawan TETAPI TIDAK HARUS DENGAN KEKERASAN. Upaya-upaya menegakkan keadilan (baca:politik yang adil) dan peningkatan kesejahtraan (ekonomi) dan pemahaman agama (baca: pendidikan) yang toleran dan yang santun justru lebih penting. Dan mestinya dalam kondisi damai umat Islam tidak boleh membuat keresahan apalagi aksi-aksi terorisme, yang mengatasnamakan jihad.
Sebenarnya, pemahaman penafsiran terhadap ayat-ayat yang dapat memicu sikap dan tindakan radikal, harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti asbabun nuzul, (konteks historis), aspek munasabah, dan juga konteks kekinian yakni masyarakat multikultur. Pendek kata, diperlukan tafsir lebih humanis-kontekstual, dan mencerminkan pandangan yang toleran terhadap keberagaman dalam rangka mendorong terciptanya harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural. (Dr. Abdul Mustakim, S.Ag. M.Ag dalam diskusi Dosen dan Mahasiswa UIN Suka Yogyakarta 20 Nopember 2015).
Menurut hemat penulis kejadian-kejadian seperti ini bisa jadi di akibatkan karena kita terlalu cendrung anti pluralisme. Seharusnya kita harus lebih peka terhadap keberagaman kita. Selama ini kita terlalu memaksakan diri terhadap klaim kebenaran yang kita miliki, sehingga seakan-seakan kita menggap bahwa mereka (agama lain) adalah musuh kita, inilah yang menjadi salah satu persoalan timbulnya aksi terorisme yang dilakukan oleh faham radikal dalam Islam. Wa allahu alam bi al-Shawab.



0 Komentar