Posisi Agama Perspektif Antropologi



Sumber Gambar: www.dictio.id
Jack David Eller, Introducing Anthropology of Religion
Wandi. S. Hum
Sebenarnya studi tentang Antropologi Agama sudah menjadi diskursus yang menarik untuk dikaji sejak dulu, dimana Agama dilihat dari perspektif budaya yang menjadi fokus utamanya adalah manusia. Pengkajian manusia dalam perspektif Antropogi Agama menjadi menarik karena manusia hidup dalam kebersamaan di masyarakat. Diamana mereka membawa ataupun memiliki pemahaman Agama yang berbeda-beda pula.
Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Jadi dapat di simpulkan dalam suatu pengertian yang sederhana bahwa antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkannya, sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Dari cara prilaku, tradisi-tradisi, dan nilai-nilai inilah, di dalamnya menyatu sistem religi.
Berbicara tentang budaya berarti kita berbicara tentang manusia, karena dalam suatu aktifitas sehari-hari manusia baik sekarang ataupun yang lalu mereka berinteraksi dan menghasilkan produk budaya. Saya kira saya setuju dengan pendapat pak Amin Abdullah, dkk. Dalam bukunya Metodologi Penelitian Agama, Pendekatan Multidisipliner, yang diterbitkan pada tahun 2006, oleh Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, pada hal 62. Kira-kira berbunyi “Jika budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral. wilayah antropologi hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul”.
Dengan melihat praktek-praktek keagamaan manusia baik itu praktek, sikap dan penghayatan dalam beragama dalam bermasyarakat kita bisa saja meninjaunya dari Perspektif Antropolgi Agama.Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan dalam disiplin ilmu Agama.
Menurut M. Atho Mudzhar, dalam bukunya Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, yang diterbitkan pada tahun 1998 di Yogyakarta: Pustaka Pelajar, pada halaman 15. Mengatakan bahwa ada lima fenomena agama dalam masyarakat yang dapat dikaji, yaitu:
1.      Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
2.   Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
3.      Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
4.      Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
5.      Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain. Kelima obyek ini dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, karena kelima obyek tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia.
Konsep inilah yang sudah ditawarkan Jack David Eller, Introducing Anthropology of religion. Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami Agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Wallahu’alambishowab.

0 Komentar