Wajah Toleransi Suku Anak Dalam


Sumber Foto: Tempo.co

Oleh: Wandi

Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada tuhan yang mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya (KBBI).

Tentu hal ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan agama suku terasing di Indonesia salah satunya Suku Anak Dalam (Suku Rimba) dalam pengamatan penulis seiring berjalannya waktu komunitas ini memilih jalannya sendiri terkait dengan kepercayaan, ada yang masih tetap pada kepercayaan anismsme dan dinamisme serta memisahkan diri dari kehidupan luar (Steven Sager, 2008), ada yang sudah masuk Islam dan Kristen.

Mereka hidup berdampingan antara satu dengan yang lain, Bagi Suku Anak Dalam (Orang Rimba) yang belum menetap/nomaden biasanya mereka masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme seperti dalam teori E.B Tylor dan Frazer, (Daniel L. Palls, 2011).

       Tetapi untuk Suku Anak Dalam (Orang Rimba) yang sudah menetap mayoritas mereka sudah beragama baik Islam ataupun Kristen. Pada dasarnya mereka juga mengenal Tuhan dengan sebutan yang satu atau dewo/dewa, mereka juga masih percaya bahwa roh-roh ghaib mempunyai kekuatan yang tidak boleh diganggu.

         Dalam beberapa refensi mutahir kondisi Suku Anak Dalam (Orang Rimba) di Desa Nebang Kabupaten Muara Jambi berjumlah 107, yang berdiam di Desa Plempang rata-rata mereka Islam dan Orang Rimba di Desa Nebang ada beberapa orang yang beragama Kristen.

       Walaupun mereka sudah beragama Islam dan menetap didalam hutan, kebanyakan mereka belum begitu faham soal agama Islam yang mereka peluk. Mereka hanya tahu sebatas mereka beragama Islam, tuhan mereka Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW, kitabnya Al-Qur’an, namun mereka belum semuanya mengetahui bacaan sholat walaupun mereka suudah dapat mengikuti rukun-rukun sholat dan baru belajar mengaji Iqro’, (Salb).

         Perpindahan kepercayaan/keyakinan ini lebih banyak dilakukan oleh generasi muda, di desa Plempang dan Nebang Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi, anak-anak  muda lebih serius untuk belajar agama dan baca al-Qur’an dan sholat hingga khatam Iqra’.

Untuk ukuran Orang Rimba hal ini sudah tentu pencapaian yang luar biasa, mengingat mereka adalah orang-orang yang termajinalkan dan tertinggal dalam kehidupannya. Mereka mulai berfikir bahwa pengetahuan keagamaan yang mereka pelajari saat ini sangat bermanfaat dan menguatkan keyakinan mereka akan kebesaran sang pencipta, (Sub).

Berbeda dengan dengan Suku Anak Dalam (Orang Rimba) di Desa Lantak Seribu, Kecamatan Renah Kabupaten Merangin baru-baru ini mereka merayakan perayaan natal di Gereja GPKI (25/12/2018) yang ada di perkampungannya, bahkan banyak warga muslim juga ikut hadir untuk membantu mengatur parkir motor sehingga rasa toleransi semakin terasa.

 Mereka saling membantu karena dalam perayaan hari besar lain mereka juga ikut saling membantu, mereka diikat dalam tali persaudaraan atas nama kemanusian, untuk lebih jelas bisa dibaca di okezone.com/25 Desember 2018 di posting pada tanggal tersebut.

Jika melihat potret toleransi yang ada pada masyarakat Suku Anak Dalam (Orang Rimba), harusnya bisa di jadikan contoh kongkrit tentang toleransi dan keberagaman yang ada di Indonesia, bertapa tidak, saat ini kita dihadapkan dengan beberapa gesekan atas nama ras dan agama, apalagi saat ini kita dihadapkan dengan tahun politik.

Bersamaan dengan itu, dengan adanya tulisan ini bisa sedikit merefleksikan tentang pentingnya rasa toleransi itu.

Perlu diingat Indonesia punya sejarah kelam atas nama Intoleransi, seperti Tragedi Sampit, Konflik Maluku (Norhaidi Hasan, 2008) dan Poso dan baru-baru ini isu agama dibawa ke politik seperti tragedi 212. Dibagian Negara lain seperti Timur Tengah kita juga bisa temukan beberapa kasus konflik atas nama ras, agama bahkan politik yang memporak-porandakan tanah air mereka.

 Maka dari itu, ada baiknya dari tulisan di atas kita sama-sama belajar dari toleransi beragama Suku Anak Dalam (Orang Rimba), mari hilangkan ego ras, suku, agama karena lebih penting dari itu kita ini adalah saudara atas nama kemanusian dan Indonesia.

Wandi, S. Hum, M A :Pendiri Komunitas Menulis Al-Mujaddid, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Alumni Pascasarjana UIN Yogyakarta

 

 

 

0 Komentar