Prabu Satmata, Raja Islam Pertama di Tanah Jawa

Prabu Satmata, Raja Islam Pertama di Tanah Jawa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Kesultanan Demak bukan kerajaan Islam pertama di Jawa. Raden Fattah bukan pula Raja Islam pertama di Jawa. Sebelumnya sudah ada seorang raja Islam, yaitu  seorang Walisanga yang masih keturunan raja Majapahit Bhre Wirabhumi. Ibunya dari kerajaan Blambangan dan Bapaknya Maulana Ishak pelopor Walisanga pertama. Dialah Sunan Giri, Raden Paku atau Prabu Satmata.

Menurut Buya Hamka, sebelum Demak berdiri, Raden Paku sudah mendirikan kerajaan agama. Giri telah menjadi pusat keagamaan yang besar. Raja Majapahit pun tidak memiliki kesanggupan untuk menghapuskan kekuasaan agama.

Saat Kerajaan Majapahit beranjak redup dengan lepasnya satu per satu negeri taklukannya. Majapahit kemudian bahkan memberikan status otonom untuk daerah Giri. Situasi ini membuat Raden Paku alias Sunan Giri berpeluang mendirikan pemerintahan kecil di pesantrennya, atau yang nantinya dikenal dengan nama Giri Kedaton, Kedatuan Giri, atau Kerajaan Giri.

Dikutip dari buku Mengenal Sejarah dan Budaya Masyarakat Gresik (2005) karya Mustakim, Kedatuan Giri pada akhirnya memisahkan diri dari Majapahit yang pengaruhnya semakin melemah. Sunan Giri tampil sebagai penguasa Giri dengan gelar Prabu Satmata atau Sultan Abdul Faqih yang memimpin sejak tahun 1487 hingga 1506 Masehi.

Setelah Sunan Ampel wafat, kekuasaan Giri menjadi lebih besar karena wilayahnya meliputi Ampel, Gresik, Tuban, dan Jalaratan lama. Sebelum Demak berdiri, para bupati atau adipatinya kebanyakan telah Islam.

Sunan Giri oleh bangsa Barat disebut sebagai Paus dari Timur bahkan sering disebut sebagai guru suci atau pandhita ratu. Dengan kewibawaan inilah yang memberikan gelar sultan kepada raja-raja Demak dan Mataram harus dapat pengakuan dari Giri.

Giri bukanlah semata tempat tinggal dan pesantren yang didirikan oleh Sunan Giri, tetapi sebuah istana kerajaan. Susunan gedungnya terdiri dari Bangsal dan Puri.

Bangsal merupakan pusat kekuasaan raja. Yaitu, sebuah kompleks perkantoran tempat raja bekerja sebagai kepala negara, pemegang otoritas hukum dan keagamaan. Di sini pula, Raja menerima tamu, memimpin rapat para menteri, dan menetapkan hukum.

Sedangkan Puri, merupakan kediaman pribadi raja dan keluarga raja. Disini pula, raja menjalankan fungsinya sebagai pemimpin keluarga sekaligus pemimpin adat dan tradisi. Disamping sebagai Raja, Sunan Giri juga sebagai saudagar. Dengan perannya sebagai Raja, Pandhita Ratu dan Saudagar, maka kontribusinya sangat besar dalam menyebarkan Islam ke luar Jawa.

Sebelum Demak berperan di Nusantara, Sunan Giri dengan jaringan perdagangan sudah merintis Islamisasi di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Kehadiran Demak hanya tinggal menyempurnakan apa yang telah dilakukan oleh Sunan Giri.

Sumber:
1. Atlas Wali Sanga, Agus Sunyoto, IIMaN 2017
2. Walisanga, Rachmad Abdullah, Wafi 2015
3. Sejarah Umat Islam,  Buya Hamka, GIP 2016 4.https://tirto.id/sejarah-giri-kedaton-kerajaan-ulama-merdeka-dari-majapahit-gclk

0 Komentar