Tolak Radikalisme Dunia Maya


Pandemi COVID-19 saat ini melanda semua negara.
  Dampak dari pandemi ini telah menghancurkan perekonomian suatu negara.  Banyak orang miskin baru, banyak pengangguran baru, ekonomi jatuh dan berbagai macam dampak negatif bermunculan akibat covid-19. 

Perekonomian membutuhkan pergerakan orang dan barang, sedangkan pandemi COVID-19 menolak pergerakan karena yang dibutuhkan adalah pembatasan.  Mengapa?  Virus COVID-19 menyebar melalui pergerakan orang dan barang.  Karena itulah virus Covid-19 kini menjadi musuh semua negara, termasuk Indonesia. 

Selain Covid-19, ternyata ada musuh bersama semua negara, termasuk Indonesia.  Musuh bersama disebut radikalisme.  Pemahaman yang dianut dari luar Indonesia ini seringkali berujung pada perilaku intoleran dan kekerasan.  Bahkan pada titik tertentu berani melakukan aktivitas yang bisa membunuh nyawa seperti aksi terorisme. 

Radikalisme yang berujung pada tindakan menyesatkan ini tentu saja tidak serta merta berakhir.  Semua butuh proses.  Dan salah satu proses yang tidak kita sadari adalah benih-benih radikalisme tersebar dalam berbagai cara dan bentuk.

Salah satunya melalui pesan di media sosial.  Disadari atau tidak, pesan kelompok radikal ini cenderung provokatif dan selalu mengandung kebencian.  Contohnya adalah kebijakan melakukan pembatasan di masa pandemi ini.  Argumentasi yang dilontarkan kelompok intoleran tidak substansial, melainkan menuduh pemerintah tidak takut kepada Tuhan, dan sebagainya. 

Sentimen yang dibangun oleh kelompok intoleran adalah virus corona adalah rekayasa dan tidak perlu ditakuti, karena yang harus ditakuti adalah Allah SWT.  Tidak perlu pakai masker, karena kalau tidak pakai masker semua orang akan mati.  Anjuran untuk beribadah di rumah, bukan di masjid atau tempat ibadah, dimaknai sebagai bentuk tidak takut kepada Allah SWT. 

Apa yang terjadi?  Banyak orang mengikutinya, karena mereka merasa dampak pembatasan itu memicu masalah lain.  Aktivitas kerja terganggu, pabrik mengurangi tenaga kerja, dan pada akhirnya mempengaruhi pendapatan bulanan. 

Sekarang, karena banyak orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan, kasus aktif harian melonjak hingga lebih dari 50 ribu kasus.  Siapa yang salah? 

Kita semua.  Kita semua berpotensi memicu lonjakan kasus.  Jika ini masalahnya, provokasi dan kebencian dimunculkan untuk menyerang pemerintah.  Pembuat kebijakan harus dikritik atau dievaluasi.  Namun jika kritik atau evaluasi ini selalu diselipkan dengan provokasi, hoax dan kebencian, itu tidak benar.  Disadari atau tidak, pola ini sering digunakan oleh kelompok radikal. 

Radikalisme ini adalah masalah kita semua.  Perlu menerapkan protokol untuk melawannya, sama seperti kita semua melawan virus covid-19.  Yakni mengidentifikasi konten atau narasi yang mengarah pada upaya radikalisasi. 

Narasi yang cenderung mengarah pada provokasi dan kebencian, inilah salah satu cirinya.  Begitu kita mengenalinya, yang harus kita lakukan adalah menolak segala bentuk radikalisme naratif.  Jangan percaya, jangan masuk, bekali diri Anda dengan literasi yang kuat untuk melakukan counter.  

Setelah kita bisa mengenali dan menolak, langkah selanjutnya adalah memerangi radikalisme dunia maya.  Caranya adalah dengan memproduksi dan mendistribusikan konten yang menyejuk,kan, konten yang merangkul keberagaman, dan konten yang menguatkan bukan melemahkan."Sumber: Kompasiana.com"

0 Komentar