Pinjaman Online, Membantu Atau Menjebak?

 


Kehidupan ekonomi di Indonesia sedang dalam fase resesi ekonomi. 
Resesi ekonomi ini hampir melumpuhkan semua aktivitas ekonomi, mulai dari proses supply and demand, hingga banyak perusahaan besar memutuskan gulung tikar. 


Tentunya hal ini juga mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat.  Rendahnya pendapatan masyarakat mengakibatkan banyak orang memilih untuk meminjam.  Dengan berkembangnya zaman dan kecanggihan teknologi, masyarakat memilih untuk meminjam dana (utang) dengan sistem online.


Pinjaman online (pinjol) atau financial technology merupakan fasilitas yang memberikan kemudahan kepada nasabahnya dalam hal peminjaman dana dengan syarat yang cukup mudah.  Namun, perkembangan teknologi juga bisa berdampak negatif. 


Banyak individu atau industri pinjaman online ilegal menawarkan banyak penawaran kepada calon pelanggannya melalui media sosial, dengan iming-iming bonus atau proses peminjaman uang yang cepat.  Tak jarang banyak orang terutama ibu-ibu yang sebenarnya memiliki akun media sosial menjadi korban pinjaman online ilegal tersebut.


Dalam Islam, pinjam meminjam uang pada dasarnya diperbolehkan selama tidak ada dalil yang menentangnya.  Dengan adanya transaksi hutang ini dapat membantu masyarakat yang sedang membutuhkan dana.


Mengenai pinjaman online sendiri, sebenarnya memiliki resiko yang cukup tinggi, karena pihak pemberi pinjaman dan pihak peminjam tidak saling bertemu.  Meski begitu, banyak orang yang menggunakan fasilitas ini karena alasan persyaratan yang mudah, dana cepat, tidak perlu keluar rumah, dan lain sebagainya. 


Selain itu, dalam pinjaman online terdapat jenis akad yang memang diperbolehkan dalam financial technology seperti mudharabah, musyarakah, wakalah dan qardh.  Pada dasarnya utang atau pinjaman online yang dibolehkan dalam Islam adalah sistem pinjaman yang memang sesuai dengan prinsip syariah, dimana tidak ada unsur riba, gharar dan sejenisnya.


Padahal, pinjaman online telah diatur dalam peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Untuk menjamin legalitas penyedia layanan pinjaman online, OJK juga telah memberikan izin kepada fintech yang memang telah memenuhi persyaratan.  Jadi, tidak semua penyedia layanan pinjaman online ilegal.


Ada beberapa cara untuk membedakan fintech legal dan ilegal.  Salah satu cirinya adalah fintech ilegal terlihat sangat agresif dalam mengirimkan iklan promosi agar calon konsumen bisa tertarik.  Selain itu, tenor pinjaman online ilegal cenderung pendek antara 7 hingga 14 hari.


Dari segi persyaratan sangat cepat dan relatif mudah, namun peminatnya sangat tinggi.  Sedangkan fintech legal memiliki ciri-ciri, antara lain adanya izin dari OJK, penetapan suku bunga yang tidak terlalu tinggi, dan sebagainya.


Namun, saat ini masih banyak orang yang salah dalam membedakan penyedia layanan pinjaman online mana yang legal dan mana yang ilegal.  Hal ini dikarenakan masyarakat lebih fokus pada jumlah dana yang dapat dipinjam dan seberapa cepat dana tersebut dapat diproses, tanpa memperhitungkan risikonya.


Alhasil, belakangan ini media massa nasional banyak memberitakan ibu rumah tangga atau pengusaha yang terlilit hutang karena pinjaman online.  Bisa dilihat, sebenarnya uang yang dipinjam tidak besar, namun 'pahala' (baca: bunga) yang harus dikembalikan hampir berlipat ganda.  Yang pasti pinjaman online ini menggunakan sistem bunga.


Tak heran, dalam pinjaman online, baik legal maupun ilegal, menerapkan sistem bunga.  Hanya saja, dalam pinjaman online yang legal, bunga pinjaman sudah ditentukan.  Di sisi lain, bunga atau biaya pinjaman pinjaman ilegal tidak terbatas.  Berkenaan dengan bunga, dalam Islam ada yang melarang dan ada yang dibolehkan. 


Sebagian ulama yang mengharamkan sistem bunga menganggap bahwa bunga bank atau bunga pinjaman termasuk riba.  Sedangkan sebagian yang membolehkan bunga bank atau bunga pinjaman menegaskan bahwa bunga tidak termasuk riba.  Oleh karena itu, terhadap perbedaan pendapat tersebut, prinsip saling toleransi dan saling menghormati harus dikedepankan.


Selain menerapkan sistem bunga, pinjaman online ilegal berpotensi membocorkan data pribadi peminjam.  Seperti yang sering terjadi saat ini, dimana korban pinjaman online mengaku tidak pernah mengajukan pinjaman dana pinjaman online, tetapi tiba-tiba mendapatkan tagihan. 


Berdasarkan hal tersebut, diduga data korban telah dicuri dan disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.  Sebagai upaya agar data pribadi kita tidak menyebar dan tidak disalahgunakan oleh oknum tertentu, sebaiknya jangan coba-coba memasang aplikasi pinjaman online ilegal atau yang tidak terdaftar di OJK.  Intinya kita harus selektif dalam menginstal aplikasi, terutama aplikasi yang berhubungan dengan pendanaan (finance) seperti yang sudah dijelaskan di atas.


Menurut Fransiskus Putra Daru Wicaksono, jumlah korban yang terjerat pinjaman online ilegal ini sekitar 1.145 laporan korban mengenai bunga yang sangat tinggi dan tidak terbatas, dan sebanyak 1.100 korban mengenai penagihan yang dilakukan tidak hanya ke kontak darurat.  Ini tercatat di LBH Jakarta. 


Tidak hanya suku bunga tinggi, tagihan mendadak dan atau kebocoran data pribadi, dalam pinjaman online ilegal, korban sering menerima ancaman dan pelecehan melalui pesan singkat.  Betapa berbahayanya sistem pinjaman online ilegal ini, tidak hanya mempengaruhi situasi keuangan, tetapi juga mempengaruhi keadaan psikologis peminjam.


Berdasarkan hal tersebut, meskipun berhutang diperbolehkan, namun sebisa mungkin menghindari hutang.  Namun jika terpaksa harus berhutang, maka sebisa mungkin hindari fasilitas pinjaman yang mengandung unsur ribawi, gharar dan sejenisnya, dan usahakan fasilitas pinjaman yang sesuai dengan ketentuan syariah, misalnya di bank syariah dan peer kepada peer lending yang telah mendapat izin dari pihak yang berwenang.  sebagai peer to peer lending yang mengelola kegiatan usahanya sesuai syariah.


Dari uraian tersebut sebenarnya banyak penyedia pinjaman online yang membantu peminjam yang sedang membutuhkan dana, namun tidak sedikit peminjam bahkan terjebak dalam jebakan hutang karena kurang berhati-hati dalam memilih layanan pinjaman khususnya pinjaman online.  Wallahu a'lam. “Siti Qowiyah”

 

0 Komentar