Khasiat Buah Pinang



Ingat pinang, ingat panjat pinang.  Mendaki buah pinang yang licin berlumuran lemak hingga ke puncak, menjadi atraksi meriah dalam merayakan hari jadi kemerdekaan republik yang lebih dikenal 17 Agustus ini.


Namun, popularitas pinang tidak terbatas pada kompetisi panjat pinang.  Buah pinang sendiri sudah dikenal sejak lama oleh nenek moyang kita, sebagai campuran makan sirih selain gambir dan jeruk nipis.


Pinang juga sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara sejak lama.  Buktinya, relief di Candi Borobudur dan Candi Sukuh jelas menampilkan pohon pinang.


Pinang adalah jenis palem yang tumbuh di Pasifik, Asia, dan Afrika bagian timur.  Akar buah pinang hitam, pada masa lalu digunakan sebagai racun untuk mengusir musuh atau orang yang tidak disukai.  Pelepah daun berbentuk tabung (dikenal sebagai upih) digunakan untuk membungkus kue dan makanan.  Umbutnya dimakan sebagai lalapan atau dibuat asinan.


Meski kurang tahan lama, pinang tua juga digunakan untuk alat atau pagar.  Buah pinang tua yang dibelah dan dibuang bagian tengahnya digunakan untuk membuat talang atau saluran air.  Pinang juga sering ditanam, di luar ruangan atau di dalam ruangan, sebagai pohon hias atau hias.


Saat ini pinang telah menjadi komoditas perdagangan.  Ekspor dari Indonesia diarahkan ke negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, atau Nepal.  Negara pengekspor utama pinang adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura dan Myanmar.


Buah pinang diperdagangkan, terutama yang sudah dikeringkan, utuh (bulat) atau dibelah.  Di negara-negara pengimpor ini, pinang diolah menjadi semacam permen sebagai camilan.


Pohon pinang menurut Wikipedia memiliki nama ilmiah Areca catechu.  Selain itu, pinang juga dikenal dengan berbagai nama daerah, antara lain pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Medan), jambe (Sunda, Jawa), atau bua, ua, wua, pua, fua, hua (  berbagai bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku).  Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal dengan nama sirih palm atau sirih nut tree.


Sekilas, pohon pinang memiliki bentuk yang sama dengan pohon kelapa.  Namun jika dilihat lebih dekat terlihat sangat berbeda.


Pinang merupakan salah satu jenis tanaman palem, memiliki batang yang tinggi hingga ketinggian 25 m.  Batangnya ramping dan lurus ke atas dengan diameter 15 cm, meskipun ada juga yang lebih besar.  Header tidak subur.  Pelepah daun berbentuk tabung, tangkai daun pendek, dengan ujung sobek dan bergerigi.


Bunga tongkol dengan pelepah yang panjang dan mudah rontok, muncul di bagian bawah daun, bertangkai pendek bercabang ganda, dengan satu bunga betina di pangkal.  Di atasnya, banyak bunga jantan tersusun dalam dua baris yang tertancap dalam alur.


Buah buni berbentuk lonjong terbalik memanjang, berwarna merah jingga, dengan dinding buah berserat.  Bijinya berbentuk telur, dan memiliki penampilan seperti jala.  Di Jawa, pinang tumbuh hingga ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut.


Untuk Herbal Pinang


Secara tradisional, pinang sering digunakan masyarakat dalam ramuan untuk mengobati disentri, diare berdarah, dan kudis.  Biji ini juga digunakan sebagai penghasil warna merah dan bahan penyamak.


Buah pinang mengandung alkaloid, seperti arekaina (arecaine) dan arekolina (arecoline), yang kurang lebih bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak.  Sediaan simplisia pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengobati cacing pita.


Bagi para peternak atau yang bekerja di bidang peternakan, seperti dikutip dari bali.litbangpertanian.go.id, meski belum banyak diketahui, pinang sangat bermanfaat karena kandungan kimianya yang bisa digunakan untuk mengobati ternak yang sakit seperti  sebagai cacing.


Tanin, lemak, dan alkaloid merupakan komponen yang memegang peranan penting dan utama.  Alkaloid yang terkandung dalam buah pinang berupa minyak alkali keras yang disebut arecholine bersifat kolinergik yang berfungsi memberikan efek sedatif.  Senyawa ini berguna dalam pengobatan ascariasis (parasit) pada ternak.


Menurut Toguan Sihombing dalam bukunya Pinang: Budidaya dan Prospek Usaha, sifat astringen dan hemostatik tanin inilah yang berkhasiat untuk mengencangkan gusi dan menghentikan pendarahan.  Bahkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Triveni, Dusun Pausan, Desa Buahan Kaja, salah satu lokasi kegiatan BPTP Bali di Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, telah melakukan pengolahan buah pinang muda menjadi teh pinang dan jus pinang, sehingga  orang dapat mengkonsumsinya untuk kesehatan.


Prof. H Unus Suriawiria, pakar bioteknologi dan agroindustri dari Institut Teknologi Bandung, mengatakan pinang telah digunakan masyarakat sebagai obat tradisional untuk memperkuat gigi dan gusi.  Caranya dengan mengunyah irisan pinang.  Adat ini juga diterapkan pada masyarakat pedesaan di India, Pakistan, Nepal, Hong Kong, dan Taiwan.


Buah pinang tidak hanya bermanfaat untuk gigi dan gusi.  Biji dalam buah ini mengandung zat yang bermanfaat sebagai obat penambah gairah.  Penelitian di Jepang dan Taiwan menyebutkan, buah pinang setara dengan lima bungkus obat peningkat gairah yang terbuat dari senyawa sintetis.


Begitu juga penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Microbiology, PSG College of Arts and Science, Coimbatore, India, yang menilai efek afrodisiak buah pinang.  Penelitian pada tikus menunjukkan ada peningkatan berkelanjutan dalam aktivitas seksual tikus jantan normal, tanpa efek samping.


Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Badan POM-Jakarta, seperti dikutip dari Pharmacy.ugm.ac.id, membuktikan bahwa ekstrak etanolik pinang (EP) dapat menghambat pertumbuhan.  sel kanker payudara, karena memiliki efek antiproliferatif dengan menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel kanker payudara.  merangsang apoptosis. “dari berbagai sumber”.

 

 

 

 

 

 

 

0 Komentar